FORUM KESEHATAN REPRODUKSI : Diskusi & Tanya Jawab



Recent Posts

Pages: 1 ... 8 9 [10]
91
Kesehatan Ibu dan Anak / Re: Pendarahan kehamilan: aman atau keguguran?
« Last post by BuAntha on April 25, 2018, 09:54:31 AM »
Saya baru tahu pendarahan saat hamil di trimester tiga ternyata berbahaya! Terima kasih infonya!

Sama2 bunda, aku senang kalo bisa bantu  ;D
92
Kesuburan (Infertilitas) / Re: Lebih Mendalam Tentang Ejakulasi Dini
« Last post by cara on April 22, 2018, 11:00:48 AM »
posisi juga mempengaruhi ya
93
Oleh: Stella Maris


Beberapa masalah yang kerap dialami pria, selain ejakulasi dini adalah bentuk alat kelamin. Masalahnya bukan sebesar apa ukurannya, tapi ada beberapa pria yang mengaku khawatir dengan bentuk Mister P.

Nah pertanyaan yang kerap mengganggu pikiran mereka adalah, apakah benar bentuk kelamin yang bengkok memengaruhi kesuburan? Apakah pria dengan kelamin tampak menekuk atau bengkok ke atas atau samping tak bisa punya anak?

Ahli medis menjelaskan bahwa, kesuburan pria tak dipengaruhi oleh bentuk Mister P yang bengkok. Dikutip laman Medical Daily, dalam dunia medis, kelamin dengan kondisi tersebut dikenal dengan nama peyronie.

Peyronie adalah sebuah penyakit yang disebabkan akibat pembentukan plak fibrosa atau jaringan parut di sepanjang batang Mister P. Penyakit ini tidak menular.

Hanya saja dalam beberapa kasus ketika berhubungan intim ada yang merasakan sakit. Gejala yang ditimbulkan karena sakit, dari waktu ke waktu akan membaik.

Bahkan penyakit peyronie ini tidak membahayakan kehidupan seks pria. Namun pada kasus yang parah, peyronie dapat diobati dengan cara operasi, dengan menunggu perawatan rutin selama 12 bulan, apakah ada perubahan dari rasa sakit itu atau tidak.



Article Source: https://feed.merdeka.com/
94
Menopouse / 6 Cara Alami Mencegah Keriput di Fase Menopause
« Last post by tiatio on April 18, 2018, 04:44:11 PM »


Bagi Anda kaum Hawa, tentunya merawat wajah menjadi prioritas yang utama. Tak peduli apapun yang tengah terjadi, melindungi wajah dari sinar matahari dan kotoran adalah hal yang wajib di kegiatan sehari-hari.

Namun, pertambahan usia tentu tak bisa Anda cegah. Seiring dengan bertambahnya usia, secara alami, tanda-tanda penuaan perlahan mulai muncul, seperti garis halus dan kerutan di wajah yang semakin hari semakin banyak.

Eits, tapi ternyata ada beberapa cara sederhana yang dapat Anda lakukan sejak dini guna mencegah munculnya keriput, lho. Apa sajakah cara tersebut?

1. Hindari matahari

Cara mencegah keriput yang pertama adalah dengan menghindari kegiatan di luar ruangan semaksimal mungkin. Pasalnya, berdasarkan puluhan penelitian yang dilakukan, paparan sinar matahari ternyata merupakan penyebab utama munculnya keriput di wajah.

Karena itu, ada baiknya jika Anda tidak terlalu sering berkegiatan di pantai, atau tempat lain yang terekspos sinar matahari secara berlebihan, ya!


2. Tingkatkan asupan Vitamin C

Cara mencegah keriput selanjutnya adalah dengan tingkatkan asupan vitamin C. Mengapa? Karena salah satu hal yang dibutuhkan oleh tubuh Anda untuk mensintesis kolagen. Seperti yang telah diketahui bersama, kolagen amat penting untuk menjaga elastisitas kulit wajah Anda.

Untuk itu, Anda harus mengonsumsi vitamin C secara teratur -75 mg untuk wanita dan 90 mg untuk pria. Sedangkan jika Anda seorang perokok, Anda akan mebutuhkan 35 mg lebih banyak dari asupan tadi.

Nah, vitamin C bisa Anda dapatkan melalui buah kiwi, stroberi, dan jeruk, serta sayuran seperti kangkung, paprika, dan brokoli.


3. Perbanyak asupan protein

Tahukah Anda bahwa protein merupakan sumber pertumbuhan dan perkembangan kulit yang utama? Protein mengandung Asam amino L-lisin dan L-prolin yang sangat penting untuk pembentukan kolagen, yang memberikan struktur pada jaringan kulit Anda.

Nah, saat Anda bertambah tua, level kolagen akan menurun, yang bisa jadi menyebaabkan keriput di wajah. Karenanya, Anda membutuhkan protein yang tinggi guna mempertahankan kolagen dan mencegah keriput. Cobalah lebih banyak mengonsumsi ikan laut, seperti salmon dan tuna, serta telur sebagai sumber protein, ya!


4. Jangan merokok

Meskipun hal ini masih diperdebatkan, namun telah banyak penelitian yang membuktikan bahwa asap rokok cepat menyebabkan penuaan kulit. Bahkan, sebuah penelitian membuktikan bahwa saudara kandung yang merokok memiliki lebih banyak keriput pada wajah jika dibandingkan dengan saudaranya. Tidak mau kan kalau kecantikan Anda harus memudar karena kebiasaan buruk yang satu ini?


5. Manfaatkan tomat

Tomat dapat digunakan sebagai cara mencegah keriput, lho. Buah merah ini berguna untuk mempertahankan kekencangan serta kelembapan kulit Anda. Sementara itu, madu telah terkenal khasiatnya dalam menjaga keremajaan kulit wajah.

Pemakaian kedua bahan ini cukup mudah, Anda hanya harus memeras sari tomat, lalu mencampurnya rata dengan madu sebagai masker wajah. Oleskan campuran ini pada wajah, dan diamkan hingga mengering lalu bilas dengan air bersih.


6. Manfaatkan minyak-minyakan

Cara mencegah keriput yang terakhir adalah memanfaatkan minyak-minyakan, seperti minyak zaitun dan minyak kelapa, yang dapat mengangkat kulit kering penyebab keriput.

Oleskan salah satu dari minyak tersebut pada wajah Anda setelah mencuci muka sebelum tidur. Diamkan, dan bilas dengan sabun pencuci muka keesokan harinya.

Nah, itu dia 6 cara mencegah keriput yang harus Anda tahu. Semoga bermanfaat!


Source: www.go-dok.com
95
Kesehatan Ibu dan Anak / Re: A mother-child health alphabet worth knowing
« Last post by lailarsih12 on April 18, 2018, 10:17:17 AM »
Ini nih, penting banget buat diketahui
Kalau ada yang cari alfabet parenting yang versi bahasa Indonesia, bisa langsung cek di Nutriclub.co.id yaa
96
Oleh: dr. Sepriani Timurtini Limbong


Kehamilan adalah salah satu masa paling membahagiakan dan dinantikan banyak wanita. Selama hamil, setiap wanita akan berusaha untuk menjaga kondisi fisik demi sang buah hati dalam kandungan. Salah satu hal yang juga tak kalah penting untuk dijaga saat hamil adalah kondisi organ kewanitaan. Pasalnya, risiko mengalami berbagai penyakit kelamin tetap bisa terjadi, bahkan meningkat, pada ibu hamil. Salah satunya adalah kutil kelamin.

Kutil kelamin, atau yang disebut dengan kondiloma akuminata, umumnya disebabkan oleh infeksi virus Human papillomavirus (HPV). Virus HPV terdiri dari berbagai tipe, tapi yang menyebabkan kutil kelamin adalah tipe 6 dan 11. Kutil kelamin tergolong ke dalam penyakit menular seksual, yaitu penyakit yang ditularkan melalui kontak seksual, baik vaginal, anal, maupun oral.

Karena kutil kelamin merupakan penyakit menular seksual, setiap orang yang sudah aktif secara seksual menjadi berisiko untuk mengalami penyakit ini. Angka kejadian kutil kelamin yang paling tinggi adalah pada kelompok usia 20-30 tahun.

Infeksi virus HPV umumnya tidak menimbulkan gejala yang spesifik. Seseorang baru menyadari adanya kutil kelamin akibat infeksi HPV pada saat timbul benjolan di area kemaluan. Selain itu, beberapa tanda dan gejala lainnya adalah:

1. Benjolan multipel di area kemaluan dengan ukuran bervariasi

2. Benjolan berwarna lebih pucat hingga kemerahan

3. Permukaannya berjonjot atau seperti jengger ayam

4. Pada kondisi tertentu, benjolan juga bisa ditemukan hingga ke area dekat anus (dubur).

5. Pada beberapa penderita, kutil bisa tumbuh bergerombol dan terlihat seperti kembang kol.


Bagaimana bila kutil kelamin terjadi saat hamil?

Secara umum, kutil kelamin yang muncul saat hamil tidak akan menyebabkan komplikasi pada kehamilan seperti kelahiran prematur, bayi berat lahir rendah, atau keguguran. Kutil kelamin pun jarang menimbulkan kecacatan organ pada janin. Beberapa literatur memang menyebutkan wanita dengan infeksi HPV lebih berisiko mengalami preeklamsia (tekanan darah tinggi saat hamil). Namun, hal ini pun jarang terjadi.

Meski demikian, bukan berarti kutil kelamin saat hamil boleh dibiarkan begitu saja. Bila kutil kelamin semakin besar, bertambah banyak, dan menjadi mudah berdarah, sebaiknya Anda segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan segera. Perdarahan yang berasal dari kutil kelamin dapat memicu pembukaan leher rahim dan mencetuskan persalinan prematur.

Selain itu, Anda juga perlu berdiskusi dengan dokter mengenai pilihan cara persalinan Anda, apakah masih mungkin persalinan dilakukan secara spontan (melalui jalan lahir) atau dengan metode operasi sectio caesaria.

Diskusi ini diperlukan mengingat ada risiko bayi mengalami respiratory papillomatosis, yaitu kondisi tumbuhnya benjolan seperti kutil pada saluran napas menengah atau bawah, bila persalinan dilakukan secara spontan atau normal. Perlu diketahui bahwa kondisi ini memang jarang terjadi, tapi tak ada salahnya untuk tetap waspada.


Pengobatan dan pencegahannya

Kutil kelamin dapat diatasi dengan obat-obatan atau pembedahan. Obat-obatan yang dipilih adalah yang bersifat sitotoksik atau menghancurkan sel. Metode pembedahan dilakukan pada kutil yang berpotensi menjadi ganas dan bertambah banyak, serta terdapat pada lokasi-lokasi yang sulit.

Pada kehamilan, pengobatan kutil kelamin umumnya ditunda sampai persalinan, kecuali pada kutil yang mengalami perdarahan. Bila terdapat perdarahan, dokter akan melakukan tindakan segera.

Meski demikian, infeksi HPV tetap dapat dicegah dan diminimalisasi risikonya dengan melakukan aktivitas seksual yang aman, tidak bergonta-ganti pasangan, dan menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Seperti yang sudah diutarakan sebelumnya, kutil kelamin saat hamil memang jarang menyebabkan komplikasi, tapi bukan berarti Anda boleh mengabaikannya. Segera konsultasi dengan dokter bila Anda mengalami kutil kelamin saat hamil untuk penanganan terbaik, demi kesehatan diri Anda dan buah hati Anda.



Sumber Artikel: https://www.liputan6.com/health/
97
Tumor / Blood flow is a major influence on tumor cell metastasis
« Last post by daijogaryn on April 10, 2018, 02:17:18 PM »
Hello,

In a paper published April 9 in Development Cell, researchers from the French National Institute of Health and Medical Research (INSERM) found that in the model of the zebrafish embryo, labeled circulating tumor cells (CTCs) could be followed throughout the vasculature. The location where the tumor cells arrested was found to be closely correlated with blood flow rates less than 400-600 m/s. The larger aim of the study was to visualize the impact of blood flow on important steps in metastasis -- arrest of the CTCs, adhesion to the vasculature, and extravasation of the CTCs from the blood vessel.

"A long-standing idea in the field is that arrest is triggered when circulating tumor cells end up in capillaries with a very small diameter simply because of size constraints," says author Jacky G. Goetz, PhD, whose laboratory conducted the study. "This research shows that this position is not only driven by physical constraint but that blood flow has a strong impact on allowing the tumor cells to establish adhesion with the vessel wall. I think this is an important addition to understanding how and where tumor cells would eventually form metastases."
Researchers chose the zebrafish embryo model since its vasculature is highly stereotyped. "This made it much easier to document the position of all the tumor cells after they were injected," explains Goetz. The team compiled all of the images together and created heat maps of the position of the tumor cells in the vasculature
The researchers also found that blood flow is essential for the process of extravasation, when tumor cells leave the circulatory blood vessel and cross the endothelial barrier at a new site to establish a secondary tumor. "When we did timelapse imaging in the zebrafish embryo, we found that endothelial cells appear to curl around the tumor cells that are arrested in the blood vessel," says Goetz.  You need a certain amount of flow to keep the endothelium active so that it can remodel around the tumor cell."
They further confirmed this observation in brain metastases in mice using intravital correlative microscopy, an imaging technique developed by the Goetz laboratory, in collaboration with Y.Schwab (EMBL, Heidelberg), which combines imaging living multicellular model systems with electron microscopy to provide details of dynamic or transient events in vivo.Scientists have long theorized that blood flow plays an integral role in cancer metastasis. But new research, testing this long-held hypothesis in zebrafish and humans confirms that the circulatory blood flow impacts the position where circulating tumor cells ultimately arrest in the vasculature and exit into the body, where they can form a metastasis.
98
Hello,

One in every five married women in Kenya uses implants as a method of contraception, according a global report on health. Data to support this was presented through a review and analysis paper during the annual Reproductive Health Supplies Coalition (RHSC) Conference in Brussels, Belgium, last month. The paper titled "Lift off: The blossoming of contraceptive use in Africa" draws data from Demographic and Health Surveys (DHS) and the Performance Monitoring and Accountability (PMA) 2020 surveys. The paper analyses recent changes in contraceptive use among married and sexually active unmarried women in 12 countries -- Burkina Faso, Democratic Republic of Congo (DRC), Ethiopia, Ghana, Kenya, Malawi, Niger, Nigeria, Senegal, Tanzania, Uganda and Zimbabwe -- that make up 61 per cent of Sub-Saharan Africa's population. Number quadrupled The 2008-09 Kenya Demographics Health Survey (KDHS) showed that implant prevalence rate among married women was only 1.9 per cent.
99
Kesehatan Ibu dan Anak / A mother-child health alphabet worth knowing
« Last post by daijogaryn on April 10, 2018, 02:10:04 PM »
This column discusses some of the fundamentals of public health delivery, as seen from the grass roots. Here are 26 important elements in maternal and child health:

AAA: The three women (accredited social health activists, Anganwadi worker, auxiliary nurse midwife) driving health and nutrition in India?s villages. The problem is they don't talk to each other.

Breastfeeding: Breast milk contains all vitamins and minerals that a baby needs. To be practised exclusively for a child's first six months. True for only 54.9% of Indian children.

Community: Service recipients. Have all the answers, seldom asked. Change begins when community is aware, empowered and demands services.

District health society: Ultimate responsibility for managing health programmes in every district. Must ensure inter-sectoral convergence, which remains a constant implementation challenge.

Eligible couples: Married and non-sterilized couples where the wife?s age is between 15 and 49. Constitute 15-18% of the population in an average village.

Facilities: Think hospitals and clinics. India has a tiered system with sub-centres, primary health centres (PHCs), community health centres, district hospitals and so on. Great on paper, broken in practice.

Gestational age: Age of pregnancy from last menstrual period. Early registration for antenatal care (ANC) is key. Over 40% of Indian women do not receive ANC in the first trimester.

Haemoglobin: Protein containing iron responsible for transporting oxygen from the respiratory organs to the rest of the body. More than 50% of Indian women are anaemic as their haemoglobin is below the required level.

Infant mortality: Death of children below age 1. In India, this is 34 out of 1,000 live births.

Janani Suraksha Yojana: Launched in 2005 to get women to deliver in hospitals. Institutional births have increased from 38.7% in 2005-06 to 78.9% in 2015-16.

Kangaroo care: Keeping babies warm through skin-to-skin contact. Benefits the mother and especially the child, ensuring that the latter gains weight.

Low birth weight (LBW): When a child weighs less than 2.5kg at birth. Of children who die in their first 28 days (look at N), 48% were attributed to LBW and prematurity. Cricket fans, no DRS for this LBW.

Maternal death: Women's death during pregnancy or first 42 days after delivery. Getting some key elements right-early and effective ANC, institutional delivery, ensuring facility preparedness and training of birth attendants?go a long way.

Neonatal mortality rate (NMR): Number of children (of 1,000 live births) who die in their first 28 days. India's NMR is 28, i.e. 750,000 Indian neonates die annually. Key elements mentioned under "M" along with special care for LBW kids critical.

Obesity: Also a case of malnutrition. Rising rapidly in rural areas.

PHC: Health facility with a doctor that is closest to the village. Each PHC serves 20,000-30,000 people. PHCs typically conduct normal deliveries but not C-sections.

Question: What to do when one is in the community (in addition to listen and observe), and conventional wisdom is off the mark.

RMNCH+A: Reproductive, maternal, newborn, child and adolescent health. Approach used by government to ensure "continuum of care" across key life stages.

Stunting: Why 38.4% of Indians are too short for their age. Not just a poor family's problem. Stunted children (beyond age 2) become shorter adults who produce and earn lesser than their peers.

Thousand days: Window from pregnancy till age 2 that offers the best opportunity to impact a child?s overall development. The problem?inadequate attention to mother and child at this stage sets the child back permanently.

Under-5 mortality: Instances of a child dying before turning five. That's 50 out of 1,000 for India (National Family Health Survey IV: 2015-16). The tragedy is that many are preventable.
100
Keluarga Berencana / Kapan Waktu Paling Tepat Menggunakan Alat KB?
« Last post by yeobeseyo on April 06, 2018, 04:55:57 PM »
Oleh: Anisha


Seperti yang kita ketahui, alat kontrasepsi digunakan untuk menunda kehamilan. Kontrasepsi pun digunakan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan keselamatan ibu dan bayi dengan cara mengatur jarak kelahiran.

Untuk mencapai tujuan yang tercapai, Anda perlu mengetahui kapan waktu yang tepat menggunakan alat kontrasepsi. "Sebaiknya setelah hamil, gunakan alat kontrasepsi setelah 40 hari kelahiran," ujar dr. Boy Abidin, SpOG saat ditemui di bilangan Cikini, Jakarta Pusat.

Alat kontrasepsi pun dibagi menjadi dua macam, hormonal dan non hormonal. Metode KB non-hormonal dianggap yang sangat cocok untuk ibu yang menyusui, salah satunya yaitu Metode Amenore Laktasi (MAL). Sedangkan metode non-hormonal lainnya adalah kondom, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR), Kontrasepsi Mantap (Tubekstomi dan Vasektomi).

"Untuk pemilihan alat kontrasepsi bagi ibu menyusui memang harus hati-hati. Pilihlah yang tidak menggangu ASI seperti berkurangnya ASI," tambah dr. Boy. Namun, WHO sebagai badan kesehatan dunia menyarankan agar ibu mulai menggunakan KB hormonal yang tidak mengandung progesteron. "KB hormonal seperti menggunakan pil KB, dan pilihan pil yang tidak mengandung esterogen," ungkap dr. Boy.



Sumber Artikel: https://feed.merdeka.com/trend/
Pages: 1 ... 8 9 [10]

Database Error

Please try again. If you come back to this error screen, report the error to an administrator.