FORUM KESEHATAN REPRODUKSI : Diskusi & Tanya Jawab



Recent Posts

Pages: [1] 2 3 ... 10
1
Kesehatan Ibu dan Anak / Faktor Kegagalan Orang Tua Saat Menyapih Anak
« Last post by BuAntha on June 26, 2019, 01:48:06 PM »
Apakah Bunda salah satu dari orang tua yang gagal menyapih? Bunda pasti sudah tahu masa menyapih anak. Ketika usia sang buah hati sudah mencapai 2 tahun, sudah saatnya Bunda menyapih.
Menunda berarti masalah baru akan muncul. Saat anak tetap minum ASI di usia 2 tahun lebih, anak cenderung sulit untuk berhenti. Selain itu, ada efek psikologisnya. Anak menjadi manja. Karena pada dasarnya saat anak tidak lagi minum ASI, pada saat itulah anak belajar mandiri. Ia tidak lagi hanya bergantung pada sang ibu.
Maka dari itu, penting sekali bagi orang tua untuk menyapih anak di usia 2 tahun. Sayangnya, banyak yang gagal daripada yang berhasil. Alasannya bermacam-macam. Ada yang tidak tega karena anak sering merengek. Ada juga yang merasa sudah berhasil tapi setiap kali mau tidur anak tidak bisa tidur kalau tidak minum ASI.
Akan tetapi, ada satu faktor yang sebenarnya mempengaruhi mengapa banyak ibu yang gagal padahal sudah tiba masa menyapih anak.
Apa Faktor Penyebabnya?
Sebenarnya, faktor yang utama adalah kesiapan ibu. Banyak ibu yang tidak kurang siap saat harus menyapih. Bukan hanya kurang siap untuk menyapih tapi juga tidak siap dalam hal pengetahuan. Kebanyakan mereka tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan.
Mungkin Bunda pernah dengar istilah weaning with love. Dalam Bahasa Indonesia, ini artinya menyapih dengan cinta. Artinya, proses menyapih anak dilakukan tanpa paksaan tanpa menyakiti. Ini teknik yang sebenarnya harus Bunda ketahui jauh-jauh hari sebelum masa menyapih anak tiba.
Sayangnya, banyak yang tidak tahu sehingga mereka tidak siap untuk menyapih dengan cinta. Mereka hanya tahu saat anak 2 tahun, anak harus disapih. Sementara mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Beberapa dari mereka akhirnya menerapkan cara menyapih yang dilakukan oleh tua terdahulu. Contohnya saja menyapih dengan cara mengoleskan balsem pada puting. Dengan tujuan agar anak tidak lagi suka minum ASI.
Ada juga yang mengoleskan daun pahitan. Namun, apapun yang digunakan, jelas ini bukan cara menyapih dengan cinta. Ini menyapih dengan menyakiti.
Bunda mungkin tidak merasa itu hal yang menyakiti. Bunda harus dengarkan apa yang dikatakan oleh para ahli psikologi anak.
Sebenarnya, kedekatan anak dengan ibu itu sudah terjalin sangat kuat sejak awal anak lahir. Pada saat itu, tidak ada yang dilakukan oleh bayi selain minum ASI. Ia merasa nyaman dan aman ketika berada di dekapan ibu
Namun, semua itu rusak ketika Bunda menyapih dengan cara memaksa. Anak merasa Bunda tidak lagi sayang dengannya. Dan ikatan antara anak dengan ibu semakin pudar.
Mungkin Bunda tidak percaya dengan penjelasan dari sudut pandang psikologi seperti itu. Namun, secara ilmiah, hal tersebut memang benar adanya.
Di sisi lain, ada yang disebut dengan weaning with love. Ini merupakan cara menyapih dengan terus memperkuat bonding atau ikatan dengan sang buah hati. Bukankah ini cara yang seharusnya Bunda pilih?
Belajar Cara Menyapih
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kesiapan menjadi kunci utama sehingga Bunda berhasil menyapih dengan cinta. Bunda harus mempersiapkan diri dengan cara mengetahui tentang bagaimana menyapih dengan cinta. Dan itu harus Bunda pelajari jauh-jauh hari sebelum masa menyapih anak.

Siapkan Minuman Alternatif
Sebelum usia 2 tahun, mulailah Bunda memperkenalkan minuman lain kepada si kecil. Bunda bisa buatkan jus buah kesukaan di siang hari. Jadi, ketika anak mau tidur siang, ia tidak lagi minum ASI.

Namun, sangat direkomendasikan Bunda berikan susu balita yang terbaik. Ini bisa menjadi alternatif dari ASI. Buatkan susu anak yang hangat. Jangan biarkan anak minum sendirian. Ketika anak minum susu balita, Bunda harus menemaninya. Ini sama seperti ketika Bunda memberikan ASI. Buat suasana yang sama seperti ketika Bunda memberi ASI.

Berbicara Tentang Anak Dewasa
Saat anak menginjak usia 2 tahun, anak sudah bisa diajak berbicara. Seringlah Bunda menjelaskan tentang anak-anak yang sudah dewasa. Selipkan cerita bahwa salah satu ciri anak yang sudah besar tidak lagi minum susu. Dengan sendirinya, anak akan merasa malu jika masih minum ASI.

Alihkan Perhatian
Yang paling sulit adalah ketika anak mau tidur. Banyak anak balita usia 2 tahun yang tidak bisa tidur tanpa minum ASI langsung dari sang ibu. Nah, ini tantangan tersendiri bagi seorang ibu.

Bunda bisa mengalihkan perhatian anak. Bunda bisa ajak anak melihat video lagu anak-anak. Atau Bunda bisa bacakan buku cerita. Biarkan anak melihat gambar menarik di buku cerita tersebut. Sambil bercerita, Bunda bisa memijat kaki sang buah hati agar cepat terlelap.

Tidur Sambil Digendong
Agar anak tidak minta ASI, gendong anak saat ia mengantuk. Jangan tunggu anak rewel. Ketahui siklus tidur anak. 15-20 menit sebelum waktu tidur anak tiba, gendong sang buah hati. Buat ia tidur di pelukan Bunda tanpa harus Bunda beri ASI.

Setidaknya itulah teknik weaning with love yang Bunda perlu ketahui. Yang pasti, Bunda harus menyiapkan diri. Pahami bagaimana cara menerapkan menyapih dengan cinta sebelum masa menyapih anak tiba. Selain itu, siapkan juga waktu dan perhatikan. Dua hal ini yang juga harus disiapkan. Pasalnya, butuh waktu yang tidak pendek untuk menyapih anak dengan cinta.
Jadi, apakah Bunda sudah siap untuk menyapih sang buah hati? Jadilah Bunda yang sebenarnya dengan cara menyapih tanpa menyakiti.
2
Nah ini yang bahaya nih, maunya biar sesuai planning tapi malah jadi pening  :o
3
terima kasih infonya, setahu saya cuma test pack saja.
4
ini perlu biaya tambahan gak sih.
5
yang penting sabar dan selalu bersyukur  ???
6
Remaja / Re: Memberi Pendidikan Seks pada Remaja, Bagaimana Caranya?
« Last post by fera113 on June 18, 2019, 09:55:03 AM »
biar belajar sendiri saja  ;)
7

Cepat atau lambat, masa menyapih anak atau menghentikannya menyusu pada ibunya pasti akan terjadi. Akan tetapi tidak semudah yang dikira, dalam proses menyapih anak ternyata ada beragam masalah yang mungkin akan muncul.

Proses penyapihan pada umumnya akan dilakukan ketika anak sudah berusia 2 tahun. Di mana pada usia ini, si kecil dianggap sudah mampu lepas dari ASI sebagai kebutuhan nutrisinya dengan digantikan makanan padat lain. Meski begitu, orang tua akan tetap mengalami kesulitan untuk membiasakan anak tidak meminta ASI lagi.

Masalah Yang Sering Muncul Saat Menyapih Anak
Apa yang Bunda khawatirkan saat menyapih anak? Dalam prosesnya, menyapih anak memang akan memakan waktu yang berbeda pada setiap anak. Tidak hanya itu, tingkat kesulitannya juga pasti akan berbeda-beda. Nah, berikut beberapa permasalahan yang mungkin mungkin muncul saat memutuskan menyapih anak:

Anak yang Keras Kepala
Perilaku anak yang keras kepala atau tetap kekeh minta diberi ASI sangat sering ditemukan pada masa menyapih anak. Pasalnya si kecil akan terus menuntut agar Bunda memberikan apa yang ia inginkan. Bahkan anak yang keras kepala ini akan sangat sulit ditenangkan meski telah dibujuk.
Fase ini mungkin akan menjadi momen paling emosional bagi Bunda karena si kecil yang terus meminta dengan berbagai cara. Bukan tidak mungkin Bunda akan merasa tidak tega hingga luluh pada keinginan si kecil. Karena itu, atasi kondisi ini dengan cara mengalihkan perhatiannya.

Anak Susah Makan
Ketika menyapih, Bunda akan lebih sering memperkenalkan anak dengan menu baru. Makanan yang disajikan untuk anak juga akan lebih bervariasi dengan susu yang hanya sebagai pelengkap. Namun sayangnya, si kecil biasanya akan terus menolak makanan yang diberikan. Entah karena rasa makanan yang masih baru baginya atau makanan yang tidak sesuai seleranya. Untuk mengatasinya, buatlah menu makanan yang sehat dengan tampilan menarik.

Masalah Pencernaan Anak
Masalah pencernaan seperti diare atau bahkan sembelit mungkin akan dialami karena makanan baru yang ia makan. Terutama jika si kecil baru berusia 6 bulan dan sedang dikenalkan dengan MPASI. Ini wajar terjadi pada masa menyapih bayi sebab sistem pencernaannya yang masih kaget dengan makanan padat. Apalagi jika konsumsinya dalam jumlah banyak sekaligus.

Anak Rewel
Si kecil yang sedang dalam masa penyapihan cenderung akan lebih rewel dari biasanya. Hal ini karena ketidaksetujuannya dengan proses penyapihan yang Bunda lakukan. Atasi permasalahan ini dengan tetap bersikap tenang dan sabar serta tegas ketika menolak kemauan si kecil tanpa menyakitinya.

Anak yang Suka Merengek
Tidak sikapnya yang memaksa Bunda memberikan ASI untuknya, si kecil juga biasanya berusaha dengan cara merengek. Pada kondisi ini kebanyakan Bunda mungkin tidak akan tega. Terlebih lagi jika anak terus menerus menangis karena tak kunjung diberi ASI. Untuk itu, berikan pengertian padanya atau tunjukkan sesuatu yang bisa membuat anak lebih tenang.

Perubahan Pada Payudara
Saat sesi menyusui berkurang atau telah selesai, tidak hanya si kecil yang akan merasakan dampaknya tapi juga Bunda. Kondisi seperti payudara kendur, lebih sensitif, mengalami pembengkakan hingga produksi susu yang tidak berhenti, cukup wajar terjadi. Untuk meminimalisir efek ini sendiri, sebaiknya lakukan penyapihan secara perlahan.

Stres
Bagi sebagian orang tua, masa menyapih bayi sangatlah melelahkan hingga bahkan membuat stres. Menghadapi sikap anak yang terus rewel dan kondisi Bunda yang tidak stabil memang bukan tidak mungkin memicu stres. Masalah ini sendiri biasanya disertai dengan kondisi kesehatan yang tidak prima dan berat badan Bunda yang mengalami penurunan.

Penyebab Proses Penyapihan Anak Gagal
Tidak teganya Bunda membiarkan si kecil yang terus meminta ASI bukanlah satu-satunya alasan penyapihan gagal dilakukan. Pasalnya beberapa faktor lain juga bisa menyebabkan kondisi ini terjadi. Faktor-faktor tersebut antara lain:

Anak Alergi
Salah satu faktor yang paling sering menyebabkan orang tua gagal atau menunda waktu penyapihan adalah kondisi anak yang alergi makanan. Penyebab ini cukup wajar mengingat anak yang biasanya hanya mengonsumsi ASI. Jika kondisi ini terjadi pada si kecil Bunda, sebaiknya segera periksakan kondisi anak ke dokter dan konsultasikan kapan waktu yang tepat menyapih anak.

Payudara Bengkak
Karena kondisi payudara yang jarang atau tidak lagi digunakan untuk menyusui, pembengkakan mungkin akan dialami. Hal ini umumnya disebabkan karena payudara yang terlalu penuh dengan ASI. Akibatnya, tidak sedikit dari Bunda yang memilih mengakhiri masa menyapih bayi meski belum berhasil.

Anak Sakit
Jika kondisi kesehatan anak sedang tidak stabil untuk menjalankan penyapihan, sebaiknya batalkan keinginan Bunda untuk menyapihnya. Utamakan kondisi anak lebih dulu agar ia benar-benar pulih dan kembali sehat. Kondisi ini juga termasuk ketika anak mengalami flu, demam, setelah masuk rumah sakit atau sedang dalam masa pertumbuhan gigi.

Emosi Anak Tidak Stabil
Ketika emosi anak tidak stabil karena adanya pengaruh yang kurang baik dari lingkungan luar, proses penyapihan anak kemungkinan akan terasa lebih sulit. Emosi anak yang tidak stabil ini bisa disebabkan karena perubahan besar seperti baru saja pindah rumah, bepergian dalam jangka waktu lama atau hal lainnya yang bisa membuat anak merasa stres.

Hamil atau Pasca Melahirkan
Jika Bunda sedang hamil atau baru saja melahirkan, proses penyapihan baiknya jangan dilakukan lebih dulu. Hal ini karena masa penyapihan dapat membuat Bunda stres sehingga tidak baik untuk janin. Terlebih lagi kebutuhan nutrisi Bunda dan bayi dalam kandungan harus lebih diutamakan.
Perlu diketahui, masa menyapih anak sangat bergantung dengan cara yang dilakukan dan kesiapan anak sendiri. Oleh karena itu, persiapkan diri Bunda dan pastikan anak dalam keadaan baik untuk disapih.
8

Dikenal sebagai minuman yang kaya nutrisi, kandungan dalam susu sangat baik untuk menjaga dan merawat kesehatan tubuh. Terutama bagi anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya.

Manfaat susu dalam membantu proses tumbuh kembang anak memang tidak perlu diragukan lagi. Namun tahukah Bunda apa yang membuat susu bisa memberi anak banyak manfaat? Hal ini tidak lain karena kandungan baik yang ada dalam susu mampu mendorong kinerja organ dalam tubuh bekerja dengan optimal.

Kandungan Nutrisi Dalam Susu
Anak-anak kerap didorong untuk rutin minum susu dengan tujuan agar tubuh tetap sehat dengan tumbuh kembang berjalan optimal. Hal ini memang benar mengingat susu memiliki kandungan nutrisi hampir sempurna yang baik untuk anak. Kandungan nutrisi yang terdapat pada susu antara lain yaitu:

Mineral
Kandungan mineral dalam susu merupakan yang tertinggi dengan kalsium yang paling banyak diketahui. Itulah mengapa susu seringkali disebut sebagai sumber kalsium terbaik yang berguna untuk pertumbuhan anak. Kalsium sendiri adalah salah satu nutrisi penting untuk tulang yang mampu membantu pembentukan dan pertumbuhan tulang lebih maksimal. Selain itu, mineral lain berupa fluor dari susu dapat membantu menjaga gigi dari kerusakan.

Protein
Protein merupakan kandungan dalam susu yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh anak lebih kuat. Ketika daya tahan tubuh kuat maka si kecil dapat terlindung dari serangan berbagai penyakit. Tidak hanya itu, protein susu juga memberi asam amino utama pada tubuh yang berguna untuk pembentukan jaringan tubuh dan memperbaiki sel-sel yang rusak.

Lemak
Lemak susu tergolong jenis lemak sehat berbentuk cair yang mudah dicerna oleh tubuh. Jadi Bunda tidak perlu khawatir lemak susu akan tertimbun dalam tubuh anak sebab lemak ini akan benar-benar dapat habis terbakar. Kandungan lemak pada susu ini dipercaya dapat menurunkan risiko obesitas dan penyakit jantung jika susu diminum dalam takaran jumlah yang tepat.

Laktosa
Termasuk dalam golongan karbohidrat yang aman dikonsumsi tubuh, laktosa pada susu bisa membuat si kecil lebih berenergi. Laktosa merupakan sejenis gula yang mengandung glukosa dan galaktosa dengan rasa yang tidak terlalu manis. Bahkan laktosa sendiri dinilai cukup aman penderita diabetes.

Vitamin
Kandungan vitamin pada susu antara lain yaitu vitamin B1 dan C. Vitamin B1 berguna membantu memproses karbohidrat menjadi glukosa untuk dijadikan energi. Selain itu, kandungan dari susu ini juga mampu menjaga fungsi saraf dan jantung anak. Sementara vitamin C bermanfaat untuk melindungi tubuh si keci dari berbagai penyakit dengan meningkatkan sistem imunnya.

Nutrisi Tambahan
Biasanya susu pertumbuhan yang diberikan pada anak telah diformulasikan khusus dengan beberapa nutrisi tambahan yang baik untuk tumbuh kembang anak. Nutrisi-nutrisi tersebut antara lain adalah AA atau AHA dan DHA yang akan membantu perkembangan otak anak, prebiotik dan probiotik serta fos dan gos yang bermanfaat menjaga si kecil agar tetap sehat.

Macam-Macam Jenis Susu
Tahukah Bunda jika susu memiliki beragam jenis yang berbeda? Meski terlihat sama, tapi setiap jenis susu ternyata melewati proses berbeda yang mempengaruhi jumlah kandungan yang terdapat di dalamnya. Macam-macam jenis susu yang bisa Bunda berikan untuk diminum si kecil antara lain yaitu:

Susu Murni
Susu ini merupakan jenis susu yang didapatkan langsung dari hasil perahan yang telah disaring untuk dihilangkan kotorannya. Tidak hanya berasal dari perahan sapi, susu murni juga termasuk dari kambing, unta atau hewan perah lainnya. Kandungan dari susu ini masih sangat terjaga namun pastikan susu bersih dan masih dalam kondisi segar saat memberikannya pada si kecil.

Susu Full Cream
Memiliki rasa yang legit dan gurih dengan tekstur creamy membuat jenis susu ini banyak disukai oleh anak-anak. Aromanya yang kuat serta kandungan lemak dan kalori yang lebih tinggi menjadikan susu ini cocok Bunda berikan pada si kecil yang kurus untuk meningkakan berat badannya.

Susu Skim
Kebalikan dari susu full cream, kandungan pada susu skim lebih rendah lemak dan kalori. Akan tetapi meski begitu, Bunda harus berhati-hati jika memilih susu skim untuk si kecil sebab produsen susu biasanya menambahkan gula tambahan cukup tinggi untuk meningkatkan cita rasa susu.

Susu UHT
Susu ultra high temperature atau yang lebih sering disebut susu UHT adalah susu yang telah melewati proses pemanasan pada suhu sangat tinggi selama beberapa detik. Proses ini bertujuan untuk mematikan mikroorganisme berbahaya yang mungkin ada didalamnya dengan tetap mempertahankan kandungan pada susu. Susu ini sendiri sudah banyak dikenal dan mudah didapatkan.

Susu Pasteurisasi
Sama seperti susu UHT, jenis susu pasteurisasi diproses dengan dipanaskan pada suhu tinggi untuk mengurangi jumlah bakteri. Hanya saja suhunya lebih rendah dan berlangsung selama 30 menit. Jika Bunda ingin memberikan susu ini pada si kecil, pastikan untuk mengecek kualitas susu pasteurisasi baik.

Susu Bubuk
Jenis susu ini adalah yang paling banyak dipilih untuk diberikan pada anak. Pasalnya susu ini mudah disimpan dan lebih tahan lama dibanding susu lain. Selain itu, susu bubuk telah banyak diformulasikan khusus untuk anak dengan kandungan yang pas untuk tahap usianya. Untuk konsumsinya sendiri, susu bubuk biasa diminum dengan cara diseduh.

Susu Kental Manis
Memiliki rasa yang sangat manis dan tekstur yang kental, susu ini tinggi akan kandungan kalori dan gula tambahan. Oleh karena itu, meski susu kental manis banyak disukai anak-anak dan sangat mudah didapatkan, sebaiknya batasi jumlah konsumsinya agar asupan gula anak tidak berlebihan.
Kandungan dalam susu pada dasarnya sama, hanya saja setelah melewati proses pengolahan, jumlah kandungan susu menjadi berubah. Oleh karena itu, periksa dan teliti lebih dulu kandungan susu sebelum memberikannya pada si kecil.
9

Anak sehat dan cerdas tentu menjadi idaman setiap orang tua. Tidak heran jika upaya-upaya agar anak tumbuh sehat dan cerdas selalu dilakukan. Jadi, apakah Bunda juga ingin tahu bagaimana merawat anak agar ia tumbuh sehat dan cerdas?

Memiliki anak yang sehat dan cerdas pasti menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Apalagi jika anak berprestasi dan bisa meraih apa yang ia impikan, ini tentu akan sangat membanggakan. Namun untuk mewujudkan hal ini tidaklah mudah karena bagimanapun merawat anak bukan hal yang sepele untuk dilakukan.

Tips Merawat Anak Agar Tumbuh Sehat dan Cerdas
Anak yang sehat biasanya memang memiliki kecerdasan yang cukup tinggi. Meski hal ini juga dipengaruhi oleh faktor genetik tapi perawatan dan didikan yang tepat menjadi faktor yang tidak kalah berpengaruh. Untuk itu, berdasarkan kata dokter di https://www.dancow.co.id/dpc/artikel/nutrisi-dalam-susu-dukung-perlindungan-kesehatan-si-kecil-tips ini dia cara merawat anak agar tumbuh sehat dan menjadi anak cerdas:

Cukupi Kebutuhan Nutrisi Harian Anak
Agar tumbuh kembang anak bisa berjalan dengan baik, kebutuhan nutrisi harian anak harus selalu tercukupi. Hal ini karena nutrisi menjadi bagian penting agar badan dapat secara optimal melakukan kinerjanya. Jika badan bekerja secara optimal, kesehatan anak pasti akan terjaga begitu juga kecerdasannya. Karena saat balita sehat, kemampuan berpikirnya pasti juga akan meningkat.

Jangan Terlalu Membatasi Anak
Kadang karena terlalu khawatir, orang tua menjadi terlalu protektif pada anak hingga membuat si kecil merasa terkekang. Kondisi ini sangat tidak baik untuk kesehatan dan kecerdasan anak karena dapat membuatnya stres. Memang tidak salah mengawasi anak tapi jangan sampai ruang geraknya terlalu terbatasi sebab hal ini dapat menghambat peningkatan kemampuannya. Jadi biarkan saja si kecil bebas berpetualang dan bereksplorasi dengan hal baru.

Jaga Kesehatan Anak
Untuk menjaga kesehatan anak memang dibutuhkan berbagai cara dan usaha. Mulai dari menjaga kebersihan diri, pola makan teratur dan hidup sehat sampai pemeriksaan kesehatan secara rutin. Menjaga kesehatan anak harus lebih ekstra dibanding orang dewasa karena di usianya tubuh anak-anak masih lebih rentan terhadap berbagai serangan virus dan kuman penyebab penyakit.

Bangun Komunikasi yang Baik dengan Anak
Agar anak tidak hanya sehat tapi juga cerdas sejak masih usia dini, Bunda perlu membangun komunikasi yang baik dengan si kecil. Misalkan saja dengan sering mengajak berbicara. Meski ia tidak akan langsung mengerti semua yang ia dengar, tapi perkembangan otak si kecil pasti akan semakin meningkat seiring dengan banyaknya kosa kata dan hal baru yang ia dengar.

Jadikan Diri Sebagai Panutan yang Baik
Yang tidak kalah penting dari semua tips yang disebutkan adalah pemberian contoh. Anak kecil cenderung akan lebih mengikuti apa yang dilakukan orang tuanya atau orang lain yang ia lihat dibanding dengan apa yang ia dengar. Oleh karena itu, jadikan diri sebagai panutan yang baik agar anak sehat dan cerdas. Cobalah untuk selalu berbuat baik di depan si kecil.

Ciri-Ciri Anak yang Tumbuh Sehat dan Cerdas
Ciri anak yang sehat adalah anak yang tidak mudah sakit, dan anak yang cerdas adalah anak yang berprestasi. Ini tentu baru akan terlihat saat anak mulai tumbuh besar dan bersekolah. Padahal anak yang sehat dan cerdas sebenarnya dapat dikenali sejak anak berusia dini dengan beberapa ciri berikut ini:

Aktif Melakukan Kegiatan Fisik
Anak yang sehat sudah pasti memiliki fisik yang tangkas dan gemar melakukan aktivitas fisik. Ia akan sangat suka berkeliling di tempat yang baru dan semangat menjalani setiap kegiatan. Contohnya seperti sering belajar berjalan, bermain, bergerak aktif dan berbagai hal yang berkaitan dengan aktivitas fisik tergantung dengan kemampuan anak di usianya.

Wajah Terlihat Segar
Wajah anak yang sehat akan terlihat lebih ceria dengan bibir yang segar atau tidak pucat dan mata yang jernih. Tidak hanya itu, kulit tubuh anak juga terlihat sehat dan tidak kering karena kebutuhan nutrisi kulitnya yang dapat tercukupi dengan baik. Seperti tercukupinya vitamin C dan E yang membantu menjaga kulit dan vitamin A yang mendukung kesehatan mata anak.

Fisik Anak Tumbuh dan Berkembang dengan Baik
Anak dengan postur tubuh yang tinggi dan berat badan ideal menunjukkan ia tumbuh dengan sehat. Tulangnya dapat terus tumbuh dengan maksimal dan badannya juga mengalami perkembangan. Dengan kata lain, tinggi dan berat badan anak akan selalu bertambah seiring dengan usianya. Ini adalah ciri anak sehat yang paling mudah untuk dilihat dan diperhatikan.

Memiliki Daya Ingat yang Bagus
Anak yang memiliki kemampuan mengingat bagus merupakan ciri anak tumbuh dengan cerdas. Ini berarti anak mampu menyerap dengan cepat hal-hal yang mungkin baru saja ia ketahui. Kemampuan anak dalam mengingat ini akan sangat membantu perkembangan kecerdasan otaknya terus meningkat.

Pandai Berbicara
Anak yang sudah pandai berceloteh sejak kecil memiliki kemampuan berbicara yang baik dan termasuk anak cerdas. Jadi Bunda jangan kesal jika anak selalu bicara atau bertanya. Karena hal ini juga merupakan wujud perkembangan kecerdasan anak. Anak usia 2 hingga 3 tahun yang sudah bisa menyebut kata benda sekitarnya tergolong anak yang cerdas di usianya.

Memiliki Nafsu Makan yang Baik
Anak butuh makanan dengan gizi seimbang agar tumbuh sehat dan cerdas. Nafsu makan yang baik akan membuat ia tidak memilih-milih makanan dan mampu menghabiskan makanannya. Jika asupan makanan anak dapat diatur dengan baik, gizi yang diperlukan untuk tumbuh kembangnya juga akan tercukupi.

Membesarkan si kecil menjadi anak sehat dan cerdas memang tidak mudah. Namun selama cara mendidik dan merawat anak dilakukan dengan tepat, pertumbuhan dan perkembangannya tentu dapat lebih maksimal. Apalagi jika anak sudah terlihat cerdas sejak kecil, Bunda hanya perlu membantu meningkatkan dan mengarahkannya saja.
10
Lain-lain / Tanpa Disadari, 4 Masalah Kesehatan Mental Ini Ancam Pekerja Kantoran
« Last post by yeobeseyo on February 08, 2019, 04:45:44 PM »
Oleh : Afifah Cinthia Pasha


Sumber Gambar : www.shemazing.net


Ada kalanya pekerjaan yang tengah dilakukan membuat senang tapi bisa juga menyebalkan. Mulai dari bos yang otoriter, gaji yang tidak sesuai dengan beban pekerjaan, pekerjaan tidak sesuai kompetensi hingga menumpuknya tugas yang tak ada habisnya.

Kesehatan mental, topik hangat yang sering jadi bahan perbincangan akhir-akhir ini. Untuk kamu yang bekerja kantoran, ternyata ada beberapa masalah atau gangguan kesehatan mental yang tanpa disadari bisa dialami.

Berikut masalah kesehatan mental yang tanpa disadari mengancam pekerja kantoran:

1) Gangguan Panik Berlebihan (Anxiety Disorder)

Gangguan panik berlebihan atau anxiety disorder di kalangan pekerja kantoran. Gangguan ini ditandai dengan rasa lelah, kesulitan berkonsentrasi, kecemasan atau panik berlebihan, dan kesulitan tidur dikarenakan tidak bisa berhenti berpikir.

Karyawan tersebut merasa memerlukan pengakuan tentang performa dan kinerja kerjanya. Mirip dengan depresi, saat mengalami anxiety disorder terkadang gejala kesehatan fisik seperti rasa sakit atau nyeri sering muncul.

Sayangnya, meskipun mengalami gejala anxiety disorder, tidak banyak yang mencari bantuan. Umumnya, pengobatan dilakukan untuk mengatasi gejala fisik yang menyertai seperti asam lambung, gangguan tidur, atau masalah pada jantung.


2) Gangguan Terhadap Kemampuan Berkonsentrasi (ADHD)

ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder) merupakan gangguan kesehatan mental yang umumnya ditemui pada anak-anak. Tetapi ADHD ternyata juga bisa menyerang orang dewasa.

Menurut sebuah survei di 10 negara, diperkirakan 3,5% karyawan mengidap ADHD. Di kantor, ADHD ditandai dengan gejala ketidakmampuan mengorganisasi, menyelesaikan pekerjaan sesuai deadline, mengatur beban pekerjaan, kesulitan mengikuti arahan atasan, dan bertengkar dengan rekan kerja. Karyawan pengidap ADHD 18 kali lebih berisiko menerima teguran di kantor, bahkan memiliki risiko 2-4 kali lebih mungkin kehilangan pekerjaan karena PHK.


3) Bipolar

Di tempat kerja, kondisi bipolar umumnya ditandai dengan perubahan siklus antara keadaan penuh semangat berlebihan (manic) dan keadaan depresi seseorang.

Kondisi manic biasanya terlihat saat karyawan tampak energik dan kreatif, tetapi performa kerjanya malah menurun. Saat kondisi manic mencapai puncaknya, karyawan tersebut akan terlihat lebih agresif, mengabaikan peraturan perusahaan, dan berusaha mengambil alih kekuasaan atau tampil sebagai pemimpin.


4) Depresi

Depresi ternyata merupakan kondisi gangguan kesehatan yang paling umum ditemui di lingkungan pekerjaan tapi jarang disadari. Mood yang buruk adalah salah satu tanda jelas kondisi depresi.

Namun di tempat kerja, karyawan yang mengalami depresi bisa mengalami tanda-tanda seperti rasa gugup, gelisah atau tertekan, mudah terganggu atau sensitif, kelelahan, dan gangguan tidur di malam hari, hingga gangguan pada kondisi fisik seperti rasa sakit dan nyeri. Depresi pada para pekerja kantoran juga berakibat menurunnya kemampuan pengambilan keputusan saat bekerja.



Sumber Artikel : https://www.liputan6.com/health/
Pages: [1] 2 3 ... 10

Database Error

Please try again. If you come back to this error screen, report the error to an administrator.